Irawan Soejono, Pejuang Indonesia di Jantung Perlawanan Bawah Tanah Belanda

PORTAL INFOKOM — Di tengah cengkeraman pendudukan Nazi atas Belanda pada 1940–1945, nama seorang pemuda Indonesia bergema di kalangan pejuang bawah tanah. Irawan Soejono, yang dikenal di antara pejuang perlawanan Belanda dengan nama samaran Henk van de Bevrijding (Henk Pembebasan), menjadi bagian penting dari jaringan perlawanan rahasia terhadap Jerman.

Irawan bergabung dengan Binnenlandsche Strijdkrachten (Tenaga Pejuang Dalam Negeri), cabang Leiden—sebuah payung organisasi yang menghimpun berbagai kelompok perlawanan Belanda. Perannya krusial namun berisiko tinggi: mengelola alat-alat percetakan bawah tanah dan radio untuk menangkap siaran Sekutu. Melalui mesin stensil dan siaran radio ilegal, jaringan perlawanan menyebarkan informasi, menjaga semangat perlawanan, dan mengoordinasikan aksi-aksi rahasia.

Tak hanya itu, Irawan juga tercatat sebagai anggota kelompok bersenjata perlawanan Indonesia yang beroperasi di bawah tanah. Di negeri yang sedang diduduki, solidaritas lintas bangsa terjalin dalam satu tujuan: melawan fasisme dan memperjuangkan kebebasan.

Namun, aktivitas tersebut berada di bawah bayang-bayang Gestapo, polisi rahasia Jerman yang terkenal kejam. Pada 13 Januari 1945, saat mengangkut sebuah mesin stensil—alat vital bagi penerbitan bawah tanah—keberadaan Irawan terendus. Gestapo berupaya menangkapnya. Dalam upaya meloloskan diri, Irawan ditembak dan gugur di usia 23 tahun, di Leiden.

Kematian Irawan mengguncang jaringan perlawanan setempat. Ia bukan sekadar kurir atau teknisi percetakan; ia adalah simbol keberanian dan komitmen lintas batas nasional. Untuk mengenang jasanya, kelompok bersenjata bawah tanah tempat ia bernaung kemudian dikenal dengan nama Grup Irawan Soejono—sebuah penanda bahwa kontribusinya meninggalkan jejak yang tak terhapuskan.

Kisah Irawan Soejono menambah satu bab penting dalam sejarah perlawanan Eropa selama Perang Dunia II, sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan melawan penindasan kerap melibatkan aktor-aktor yang kisahnya terpinggirkan. Di usia yang sangat muda, Irawan memilih risiko tertinggi demi kebebasan—dan membayarnya dengan nyawa.

+ There are no comments

Add yours