PORTAL INFOKOM — Sebuah mobil sederhana menjadi saksi bisu perjalanan pengabdian panjang seorang kader Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta Barat. Selama 13 tahun, kendaraan tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai alat transportasi, melainkan telah menjelma menjadi bagian penting dari aktivitas kemanusiaan dan sosial yang dijalankan pemiliknya, Nur Zaman Sidiq, kader Barisan Ansor Serbaguna.
Mobil yang diperoleh melalui skema kredit selama tiga tahun itu menyimpan kisah perjuangan tersendiri. Di tengah kondisi penghasilan yang tidak menentu, Nur Zaman mengaku sempat mengalami keterlambatan pembayaran hingga mendapat teguran dari pihak pembiayaan. Namun, berkat ketekunan dan kesabaran, ia berhasil melunasi seluruh kewajibannya hingga mobil tersebut sah menjadi miliknya.
Seiring waktu, kendaraan itu diberi identitas NU sebagai simbol kecintaan dan dedikasi terhadap organisasi. Mobil tersebut kemudian aktif digunakan dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari distribusi bantuan saat musibah kebakaran, penyuluhan kepada masyarakat selama pandemi COVID-19, hingga mendukung operasional kegiatan NU dan Banser di berbagai kesempatan.
Tak hanya itu, mobil tersebut juga turut hadir dalam momen bersejarah, yakni peringatan Harlah Satu Abad NU di Sidoarjo. Bagi Nur Zaman, kehadiran mobil itu dalam berbagai peristiwa penting menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan pengabdian yang tak terpisahkan.
Berbagai pengalaman pahit dan manis turut mewarnai perjalanan tersebut. Salah satunya terjadi saat kegiatan pembagian masker dan hand sanitizer di masa pandemi, ketika bagian belakang mobilnya ditabrak oleh pengendara lain hingga mengalami kerusakan. Alih-alih menerima permintaan maaf, Nur Zaman justru mendapat respons yang kurang menyenangkan. Namun, ia memilih merespons dengan sikap tenang dan penuh kesabaran.
Kini, setelah lebih dari satu dekade digunakan tanpa henti dalam berbagai aktivitas sosial, kondisi mobil tersebut mulai menurun. Kerusakan pada mesin dan sejumlah komponen membuatnya tidak lagi optimal digunakan. Meski demikian, keterbatasan ekonomi membuat Nur Zaman belum mampu melakukan perbaikan secara menyeluruh.
“Mobil ini bukan sekadar kendaraan. Ia adalah saksi perjuangan dan bagian dari pengabdian kami,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, semangat khidmat yang dipegang teguh oleh Nur Zaman tetap tidak surut. Ia menegaskan bahwa pengabdian di NU bukan semata soal kemampuan materi, melainkan tentang kesetiaan dan kemauan untuk terus berkontribusi bagi umat.
Ia pun berharap doa dan dukungan dari para ulama serta pengurus NU agar dirinya tetap istiqamah dalam menjalankan amanah, serta diberikan kekuatan untuk melanjutkan pengabdian meski dalam keterbatasan.
Kisah ini menjadi potret nyata bahwa dedikasi terhadap organisasi dan masyarakat dapat hadir dalam bentuk sederhana, bahkan melalui sebuah kendaraan yang setia menemani perjalanan panjang pengabdian.


+ There are no comments
Add yours