Seringai Hapus Musik dari Spotify, Protes Investasi CEO di Teknologi Militer

PORTAL INFOKOM – Band metal kenamaan Indonesia, Seringai, secara resmi menarik seluruh katalog musiknya dari platform streaming Spotify. Langkah ini diambil sebagai bentuk protes terhadap dugaan investasi CEO Spotify, Daniel Ek, dalam perusahaan teknologi yang terlibat dalam pengembangan sistem militer berbasis kecerdasan buatan (AI) dan drone.

Keputusan tersebut dikonfirmasi oleh manajer Seringai, Wendi Putranto, yang menegaskan bahwa band tersebut menolak terlibat dalam aktivitas yang berpotensi mendukung peperangan. “Seringai tidak ingin nilai-nilai musik dan pesan kami dikaitkan dengan praktik bisnis yang mendukung konflik bersenjata,” ujar Wendi dalam pernyataan resminya, Jumat (18/10).

Langkah ini muncul setelah laporan media Eropa menyebutkan bahwa Daniel Ek menginvestasikan sekitar €600 juta ke sejumlah perusahaan yang berfokus pada teknologi drone dan AI untuk kebutuhan militer.
Sebagai band yang dikenal dengan lirik-lirik kritis dan pesan perdamaian, Seringai menilai tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip dan nilai yang mereka junjung.

“Bagi kami, musik adalah medium untuk menyebarkan kesadaran dan empati, bukan alat yang secara tidak langsung membiayai peperangan,” tulis Seringai dalam unggahan media sosialnya.

Meski demikian, penggemar Seringai masih dapat menikmati karya-karya band tersebut melalui layanan streaming lain seperti YouTube Music, Bandcamp, Deezer, dan Apple Music.

Seringai bukan satu-satunya band yang mengambil langkah ini. Grup musik Majelis Lidah Berduri juga memutuskan untuk menghapus seluruh karya mereka dari Spotify dengan alasan serupa. Keduanya menilai bahwa langkah ini merupakan bentuk solidaritas terhadap prinsip anti-kekerasan dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan.

Tindakan protes ini turut memicu diskusi di kalangan musisi dan pendengar mengenai tanggung jawab etis platform digital dalam menyalurkan keuntungan dan investasi mereka.
Bagi Seringai, keputusan ini bukan sekadar aksi simbolis, melainkan bentuk konsistensi terhadap pesan yang selama ini mereka bawa: musik seharusnya berpihak pada kehidupan, bukan perang.

+ There are no comments

Add yours