PORTAL INFOKOM – Gerakan Pemuda (GP) Ansor menanggapi serius dugaan pelecehan terhadap tradisi pesantren dan kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) yang disebut terjadi dalam tayangan di stasiun televisi Trans7. Sebagai bentuk respons, GP Ansor menggelar konsolidasi nasional di Soreang, Kabupaten Bandung, pada 17–19 Oktober 2025.
Ketua Umum GP Ansor, melalui pernyataannya, menilai bahwa tayangan yang dianggap melecehkan simbol pesantren dan ulama itu tidak dapat dipandang sebagai kesalahan teknis semata. Ansor menilai peristiwa tersebut mencerminkan adanya pola atau desain sistematis yang berpotensi merugikan citra pesantren dan NU.
“Pelecehan terhadap kiai dan pesantren bukan kejadian kebetulan. Ini bagian dari pola lama yang ingin meminggirkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin yang diusung NU,” ujar salah satu pengurus pusat GP Ansor dalam forum tersebut.
Pandangan PBNU: Tayangan Dinilai Berpotensi Provokatif
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, sebelumnya juga menyampaikan pandangan terkait polemik ini. Ia menyebut tayangan yang ditayangkan Trans7 sebagai bentuk penyiaran yang “jahat” karena dinilai dapat memprovokasi konflik antar kelompok keagamaan dan mengancam persatuan nasional.
“Media harus menjaga tanggung jawab moral dan sosialnya. Konten yang berpotensi menimbulkan kebencian antarkelompok berisiko besar terhadap keutuhan bangsa,” ujar Gus Yahya.
PBNU menyerukan agar lembaga penyiaran lebih berhati-hati dalam memproduksi konten keagamaan dan melakukan klarifikasi terbuka jika terjadi kesalahpahaman publik.
Maklumat Bandung dan Seruan GP Ansor
Konsolidasi nasional yang dihadiri kader GP Ansor dari seluruh Indonesia tersebut ditutup dengan pembacaan Maklumat Bandung, sebuah pernyataan sikap resmi organisasi terhadap kasus ini. Dalam maklumat tersebut, Ansor menegaskan komitmennya untuk melawan segala bentuk narasi yang dianggap merugikan pesantren, kiai, dan NU.
GP Ansor juga menyerukan agar PBNU mengeluarkan “Resolusi Jihad Jaga Kiai, Jaga Negeri” pada peringatan Hari Santri 22 Oktober mendatang. Istilah jihad dalam konteks ini dimaknai sebagai perjuangan non-kekerasan untuk melawan narasi yang dinilai merusak kepercayaan masyarakat terhadap pesantren dan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.
“Kami menyerukan soliditas seluruh kader Ansor dan Banser. Jika kiai dan NU memanggil, tidak ada kata menyerah dalam menjaga marwah pesantren dan persatuan bangsa,” demikian kutipan dalam maklumat tersebut.
Seruan untuk Persatuan dan Etika Media
Di akhir pertemuan, GP Ansor menegaskan bahwa sikap mereka bukan semata bentuk kemarahan, tetapi sebagai upaya menjaga nilai-nilai kebangsaan dan melawan penyalahgunaan media untuk tujuan provokatif.
Organisasi pemuda NU itu juga mengimbau seluruh pihak untuk mengedepankan dialog dan klarifikasi terbuka, demi menghindari polarisasi di tengah masyarakat.
