
PORTAL INFOKOM – Wakil Ketua Umum Angkatan Muda Cakra, Bernadus Sias Tanlain S.H, atau yang akrab dipanggil “Benja”, menyatakan bahwa isu politik identitas tidak lagi relevan untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024. Menurutnya, literasi masyarakat terhadap berita palsu atau hoaks telah meningkat, dan generasi milenial yang “melek” digital turut berperan dalam meningkatkan literasi ini.
Benja berpendapat bahwa politik identitas yang bersifat positif masih dapat diterima, misalnya kampanye dengan jargon agama, selama tidak digunakan untuk menyalahkan kelompok lain atau mengampanyekan khilafah. Ia menekankan bahwa politik identitas harus positif, mendukung agama, memajukan bangsa, dan tidak mengganggu orang lain.
Politik identitas yang negatif, khususnya yang mengeksploitasi sentimen agama, dianggap oleh Benja sebagai ancaman terhadap kerukunan dan persatuan bangsa. Ia memperingatkan bahwa pertarungan sentimen agama dapat merusak iklim demokrasi, memberikan peluang bagi kelompok radikal, dan mengakibatkan polarisasi di masyarakat.
Benja juga menyebut bahwa tindakan terorisme saat ini menggunakan strategi “soft,” seperti konvoi, pembagian selebaran, dan acara menarik, dengan tujuan mengganti ideologi bangsa. Ia mengajak masyarakat dan aktor politik untuk tidak terpancing oleh narasi negatif, termasuk isu khilafah yang sedang ramai diperbincangkan.
Pada akhirnya, Benja berharap agar aktor politik fokus pada program, prestasi, dan visi-misi mereka untuk kemajuan Indonesia, serta menghindari politik identitas negatif dalam persaingan politik menjelang Pilpres 2024.
Benja menegaskan bahwa politik identitas negatif, terutama yang mengeksploitasi sentimen agama, sudah tidak relevan untuk Pilpres 2024. Ia menyoroti peningkatan literasi masyarakat terhadap berita palsu dan mengingatkan tentang ancaman polarisasi dan potensi kelompok radikal. Benja mendorong fokus pada politik identitas positif, program, prestasi, dan visi-misi untuk memajukan Indonesia.
B.C


+ There are no comments
Add yours