PORTAL INFOKOM – Kasus kematian aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib masih menyisakan tanda tanya besar meski bertahun-tahun berlalu. Pilot Garuda Indonesia, Pollycarpus Budihari Priyatno, telah divonis 20 tahun penjara atas keterlibatannya. Namun, publik terus bertanya: siapa aktor utama di balik pembunuhan ini?
Munir ditemukan meninggal dunia di atas langit Rumania, dua jam sebelum pesawat Garuda Indonesia GA-974 mendarat di Schiphol, Amsterdam. Hasil autopsi Lembaga Forensik Belanda (NFI) di Amsterdam menunjukkan adanya kandungan arsenik 3,1 miligram per liter dalam darahnya — jauh di atas ambang batas toleransi tubuh manusia sebesar 1,7 mg/l. Di lambung Munir, tim forensik juga menemukan 465 miligram arsenik yang belum tercerna.
“Penggunaan arsenik sebagai alat pembunuhan tergolong cerdas,” kata pakar forensik Dr. Mun’im Idries. Ia menjelaskan, arsenik merupakan racun tanpa rasa, bau, dan warna, sehingga sulit terdeteksi. Racun ini memang dikenal mematikan, namun jarang digunakan untuk pembunuhan—kurang dari 10 persen kasus.
Mun’im menolak ajakan polisi untuk ikut ke Belanda. Menurutnya, penyebab kematian sudah jelas, yaitu arsenik. Yang belum terjawab adalah cara kematian (manner of death).
Analisisnya menunjukkan, racun tidak mungkin berasal dari makanan di pesawat, sebab hanya Munir yang tewas. Dugaan bunuh diri juga ia tolak, mengingat Munir tengah berangkat melanjutkan pendidikan di Belanda. “Skenario yang paling masuk akal adalah pembunuhan,” ujarnya.
Hasil investigasi tim kepolisian yang berangkat ke Belanda menyimpulkan racun masuk melalui jus di pesawat. Namun, Mun’im menilai teori ini lemah karena arsenik lebih mudah larut dalam air hangat, bukan air dingin. Menurutnya, gejala keracunan arsenik bisa muncul hanya dalam 30 menit.
Kronologi menunjukkan, Pollycarpus yang saat itu bertugas sebagai “teknisi” mempersilakan Munir pindah dari kursi ekonomi 40G ke kursi bisnis 3K. Saat pesawat transit di Bandara Changi, Singapura, keduanya sempat terlihat di kafe Coffee Bean, lokasi yang diyakini Mun’im sebagai tempat racun diberikan.
Sesaat setelah pesawat kembali lepas landas menuju Amsterdam, Munir mengeluh sakit perut dan meminta obat maag kepada pramugari. Beberapa jam kemudian, ia meninggal dunia dalam tidurnya pada pukul 05.10 GMT (12.10 WIB).
Dalam persidangan awal, tempat kejadian perkara (TKP) disebut berada di dalam pesawat, sehingga Pollycarpus sempat bebas. Namun, Mun’im kemudian menyatakan bahwa TKP sesungguhnya adalah Coffee Bean di Bandara Changi. Beberapa saksi pelajar bahkan mengaku melihat Munir dan Pollycarpus di lokasi tersebut.
Mun’im sempat dipanggil oleh Kepala Bareskrim Polri saat itu, Komjen (Pol) Bambang Hendarso Danuri (BHD). Menurutnya, penyelesaian kasus ini berkaitan dengan citra Indonesia di mata dunia. “Kalau kita tidak bisa menemukan pelakunya, dana bantuan luar negeri bisa tertunda. Munir adalah tokoh HAM, dan kasus ini sensitif,” ujar BHD kepada Mun’im.
Keterlibatan Garuda Indonesia juga memunculkan kejanggalan. Surat tugas untuk Pollycarpus diterbitkan oleh Direktur Utama Garuda saat itu, Indra Setiawan. Anehnya, surat itu menugaskan Pollycarpus—yang berstatus pilot Airbus A330—sebagai teknisi untuk menyelidiki insiden Boeing 747 yang sebelumnya mengalami kerusakan roda pendarat.
Tiga pertanyaan pun muncul. Mengapa yang dikirim bukan pilot Boeing 747? Mengapa bukan teknisi yang seharusnya memeriksa roda pesawat? Dan bagaimana Pollycarpus bisa kembali ke Jakarta keesokan harinya jika tugasnya membutuhkan waktu lama?
Meski berbagai fakta telah terungkap, kematian Munir tetap menyimpan misteri. Apakah Pollycarpus bertindak sendiri, atau ada pihak lain yang memberi perintah? Hingga kini, publik masih menunggu jawaban atas pertanyaan terbesar dalam salah satu kasus pelanggaran HAM paling kontroversial di Indonesia itu.


+ There are no comments
Add yours