PORTAL INFOKOM – Legenda Si Manis Jembatan Ancol telah lama bersemayam dalam benak masyarakat Jakarta—sebuah kisah yang melintasi generasi, menyelubungi malam dengan aura mistik dan pesona tak kasatmata. Sosok perempuan berambut panjang, berwajah rupawan, menjelma ikon urban yang menakutkan sekaligus memikat. Popularitasnya melahirkan berbagai adaptasi dalam film dan sinetron, menjadikannya legenda yang tak lekang dimakan masa.
Namun, di balik kisah yang beredar luas, budayawan Betawi Ridwan Saidi pernah mengungkapkan bahwa terdapat kekeliruan mendasar mengenai sosok hantu cantik tersebut. Penuturannya bukan sekadar dugaan; ia bersandar pada penelitian yang ia lakukan bersama sejumlah saksi hidup antara tahun 1955 hingga 1960.
Dalam karyanya, “Ketoprak Betawi” yang diterbitkan oleh Intisari pada 2001, Ridwan menyingkap asal-usul di balik legenda menyeramkan itu. Menurutnya, akar cerita bermula pada dekade 1950-an, ketika surat kabar seperti Keng Po gencar memberitakan maraknya kecelakaan lalu lintas di kawasan Ancol—terutama di sekitar jembatan yang kini tersohor itu.
Kala malam turun, para sopir sering melaporkan insiden tragis yang berujung maut. Mereka yang selamat menyampaikan kisah serupa: di tengah jembatan, tampak sesosok wanita muda berdiri seorang diri, diam menatap jalan, atau kadang melangkah pelan seolah menyeberang dalam kabut malam. Tak seorang pun mampu memberikan gambaran pasti mengenai pakaiannya—yang kelak menjadi ciri khas dalam film dan diperankan oleh Diah Permatasari maupun Kiki Fatmala.
Sosok perempuan itu kemudian dipercaya sebagai biang keladi dari kecelakaan-kecelakaan tersebut. Para pengemudi mengaku kehilangan kendali setelah pandangan mereka terpaut pada kecantikan “Si Manis”—sebuah godaan visual yang seolah menyihir hingga membuat mereka lupa akan jalan di depan.
Meski demikian, beberapa media Belanda seperti Java Bode berupaya menafsirkan fenomena ini secara rasional. Mereka menganggap penampakan tersebut hanyalah halusinasi akibat kelelahan ekstrem para sopir malam. Akan tetapi, suara logika itu tenggelam dalam derasnya keyakinan masyarakat. Cerita tentang “Si Manis Jembatan Ancol” sudah kadung menjadi mitos yang dipercaya, diwariskan dari satu telinga ke telinga lain.
Lebih jauh lagi, legenda ini sering dikaitkan dengan sosok lain yang tak kalah tragis—Ariah, atau dalam beberapa versi disebut Aria, seorang gadis muda yang diberitakan hilang secara misterius sekitar tahun 1870–1871 di kawasan Ancol. Ariah dikisahkan sebagai gadis yang tinggal di paviliun milik seorang juragan kaya di Kampung Sawah Paseban. Dalam catatan Ridwan, saat berusia enam belas tahun, Ariah sempat menarik perhatian sang juragan yang bahkan berniat memperistrinya.
Namun Ariah menolak keras. Ia tak sudi dijadikan selir, terlebih karena kakaknya sendiri belum menikah. Tekanan dan ancaman membuat Ariah memilih melarikan diri dari rumah majikannya. Sayangnya, nasib buruk menantinya di tengah pelarian itu.
Ia bersua dengan Oey Tambahsia, seorang juragan termasyhur yang dikenal bernafsu mengoleksi perempuan muda. Dengan tangan dingin, Oey memerintahkan dua orang centengnya, Pi’un dan Surya, untuk menangkap gadis tersebut. Ariah akhirnya tertangkap di Bendungan Dempet, dekat Danau Sunter.
Meski dibekuk, Ariah tetap melawan sekuat tenaga. Dalam amarah yang membuncah, kedua centeng itu kehilangan kendali hingga membunuh sang gadis malang. Jasadnya kemudian ditemukan di hamparan sawah, sekitar 400 meter dari lokasi Jembatan Ancol sekarang—tempat di mana legenda kelak berakar.
Ridwan mengaku tak mengetahui secara pasti kapan nama Ariah berubah menjadi Mariam—nama yang kini identik dengan sosok dalam film. Meski demikian, ia meyakini perubahan itu hanyalah salah kaprah yang terus diwariskan hingga kini.
Dengan demikian, legenda Si Manis Jembatan Ancol bukan sekadar kisah tentang hantu jelita yang bergentayangan, melainkan pantulan getir dari sejarah panjang seorang gadis muda yang tertelan oleh kekuasaan, ketamakan, dan tragedi manusia.
