PORTAL INFOKOM – Nama Gombloh mungkin tak selalu disebut di barisan terdepan sejarah musik populer Indonesia. Namun jauh sebelum kritik sosial menjadi arus utama, penyanyi dan pencipta lagu asal Jawa Timur ini telah lebih dulu menyuarakan kegelisahan rakyat kecil lewat karya-karyanya. Ia hadir sebagai pembela kaum pinggiran—dengan lirik yang lugas, tajam, kadang sinis, namun tetap membumi.
Majalah HAI edisi Mei 2009 pernah mencatat, ketika Iwan Fals masih merintis karier di Jakarta, Surabaya telah lebih dulu memiliki figur penyanyi yang berdiri di barisan rakyat melalui lagu-lagunya. Bahkan, secara tidak resmi, salah satu karya Gombloh disebut telah menjelma menjadi “lagu wajib” yang terus dinyanyikan lintas generasi hingga kini.
Lahir di Jombang pada 12 Juli 1948, Gombloh dikenal luas melalui lagu-lagu bernuansa nasionalisme dan kritik sosial. Karyanya tidak hanya berbicara tentang cinta tanah air, tetapi juga memotret realitas hidup kaum terpinggirkan—dari kemiskinan, ketidakadilan, hingga suara-suara yang kerap diabaikan penguasa. Kritiknya kerap terasa pedas, nyinyir, namun justru itulah yang membuat lagu-lagunya relevan dan berani.
Pengaruh Gombloh bahkan melampaui dunia musik. Denny Sakrie, wartawan senior musik Indonesia, pernah mencatat bahwa karya-karya Gombloh dijadikan objek penelitian kebudayaan sosial oleh Martin Hatch, peneliti dari Cornell University, Amerika Serikat. Hal ini menegaskan posisi Gombloh bukan sekadar seniman, melainkan juga fenomena sosial.
Meski dikenal serius dan kritis, Gombloh bukan tanpa sisi jenaka. Di awal kariernya bersama grup Lemon Trees, ia menunjukkan kepiawaian meramu humor dan lelucon ke dalam lagu. Karya seperti Lepen (Lelucon Pendek) dan Selopen (Seloroh Pendek) menjadi bukti bahwa kritik tak selalu harus disampaikan dengan wajah muram. Ungkapan legendaris “kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat” yang masih sering dikutip hingga kini, berasal dari penggalan lirik lagu Selopen.
Kepergian Gombloh pada 9 Januari 1988, dalam usia yang relatif muda, meninggalkan duka mendalam, terutama bagi mereka yang merasa suaranya terwakili oleh lagu-lagunya. Rakyat kecil kehilangan penyanyi yang berani berbicara atas nama mereka, tanpa basa-basi dan tanpa takut.
Pengakuan atas jasanya datang secara resmi pada 2005, ketika PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia) menganugerahkan Nugraha Bhakti Musik kepada Gombloh. Penghargaan tersebut menegaskan kontribusinya yang besar bagi perkembangan musik nasional dan kesadaran sosial di Indonesia.
Tak hanya rakyat kecil yang merasa dibela, para pelaku industri musik pun mengakui peran Gombloh sebagai seniman penting bangsa. Hingga hari ini, karya-karyanya tetap hidup. Bagi generasi yang ingin merasakan patriotisme lewat lagu, namun jenuh dengan lagu wajib yang itu-itu saja, Kebyar-Kebyar masih layak dinyanyikan lantang—sebagai pengingat bahwa cinta tanah air juga bisa lahir dari suara gitar dan kejujuran lirik.


+ There are no comments
Add yours