PORTAL INFOKOM – Di tengah ketegangan politik dan keagamaan di Tanah Suci pada awal abad ke-20, muncul sebuah kisah yang hingga kini terus dikenang di kalangan pesantren Nahdlatul Ulama. Kisah itu tentang kecerdasan humor KH. Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab yang disebut berhasil mencairkan hubungan ulama Sunni dan Syiah demi menolak rencana pembongkaran makam Nabi Muhammad SAW.
Cerita tersebut bermula ketika kekuatan Wahabi di bawah kepemimpinan Ibnu Saud disebut ingin merombak sejumlah situs bersejarah Islam, termasuk makam Rasulullah SAW di Madinah. Situasi itu memicu kegelisahan banyak ulama dunia Islam, termasuk di Indonesia.
Di tengah minimnya perlawanan, KH. Hasyim Asy’ari yang dikenal sebagai Hadratussyaikh disebut menjadi salah satu ulama yang berani mengambil sikap tegas. Pendiri Nahdlatul Ulama itu kemudian mengutus santrinya, KH. Abdul Wahab Hasbullah, untuk berangkat ke Arab bersama KH. Dahlan Abdul Qohar.
Menurut kisah yang beredar di kalangan pesantren, Mbah Hasyim berpesan agar Mbah Wahab menggalang dukungan ulama dunia Islam untuk menolak pembongkaran makam Nabi.
Sunni dan Syiah Sulit Disatukan
Sesampainya di Tanah Suci, Mbah Wahab disebut mendapati banyak ulama memilih menghindar dari konflik tersebut. Sebagian pergi ke Mesir, Suriah, hingga Yaman. Yang tersisa hanya dua kelompok besar: ulama Sunni dan ulama Syiah.
Masalahnya, hubungan kedua kelompok saat itu dikenal tidak harmonis dan sulit dipersatukan.
Mbah Wahab kemudian berupaya mempertemukan para ulama dari dua kubu tersebut. Namun, upaya awal tidak berjalan mudah. Penampilan sederhana Mbah Wahab disebut membuat sebagian orang meremehkannya.
Situasi mulai berubah setelah sejumlah ulama membantu memperkenalkan dirinya, termasuk seorang ulama bernama Syaikh Ahmad Ghonaim al-Mishri.
Ketika forum akhirnya digelar, Mbah Wahab memperkenalkan diri sebagai santri dari KH. Hasyim Asy’ari. Nama besar Hadratussyaikh yang telah dikenal luas di dunia Islam membuat para peserta mulai memberi perhatian serius.
Candaan “Semut” yang Pecahkah Ketegangan
Alih-alih langsung membahas persoalan politik dan pembongkaran makam Nabi, Mbah Wahab justru membuka percakapan dengan pertanyaan ringan.
Ia bertanya mengapa para ulama Arab terbiasa saling mencium pipi kanan dan kiri ketika bertemu. Salah satu ulama menjawab bahwa sentuhan kulit itu kelak akan menjadi saksi persaudaraan di hadapan Allah SWT.
Jawaban tersebut kemudian dibalas Mbah Wahab dengan candaan yang membuat forum mendadak hening.
“Kalau begitu apa bedanya dengan semut? Semut juga kalau bertemu saling cium pipi kanan kiri,” kata Mbah Wahab sebagaimana diceritakan dalam riwayat lisan pesantren.
Dari situlah Mbah Wahab mulai melontarkan kisah jenaka tentang semut di masa Nabi Nuh AS yang kehilangan alat kelaminnya akibat tertinggal di kapal. Cerita absurd namun penuh humor itu membuat forum yang semula tegang berubah cair.
Ulama Sunni dan Syiah yang sebelumnya saling menjaga jarak disebut akhirnya tertawa bersama, saling bersalaman, hingga berdiskusi lebih terbuka.
Diplomasi Humor Ala Kiai Nusantara
Meski kisah ini lebih banyak hidup dalam tradisi tutur pesantren dan belum tercatat sebagai dokumen sejarah formal, cerita tentang Mbah Wahab dianggap menggambarkan karakter khas ulama Nusantara dalam berdakwah dan berdiplomasi: lembut, cair, tetapi efektif.
Bagi banyak kalangan Nahdliyin, humor bukan sekadar bahan tertawaan, melainkan cara mencairkan konflik dan mempertemukan perbedaan.
Kisah KH. Abdul Wahab Hasbullah itu pun terus dikenang sebagai simbol kecerdasan sosial ulama pesantren Indonesia dalam membangun persatuan di tengah perbedaan mazhab dan kepentingan politik dunia Islam.
Sumber : Laduni


+ There are no comments
Add yours