Lahirnya “Banteng Merah”: Upaya Brigade SS Stoottroep Semarang Menepis Stigma Pasca Peristiwa Madiun 1948

PORTAL INFOKOM – Di tengah gejolak Revolusi Kemerdekaan Indonesia, sejumlah kesatuan militer menghadapi ujian tidak hanya di medan perang, tetapi juga dalam mempertahankan legitimasi dan loyalitas kepada Republik. Salah satu kisah yang mencerminkan dinamika tersebut adalah perjalanan Brigade SS (Stoottroep Semarang), yang berupaya membangun kembali kehormatan setelah diterpa stigma pasca-Peristiwa Madiun 1948.

Catatan sejarah yang dihimpun dari Riwayat Singkat Brigade SS terbitan Staf Penerangan/Publiciteit Brigade SS Divisi III mengungkap bahwa Resimen 24 Divisi IV—yang kemudian dikenal sebagai Brigade SS/VI SPDT—mengalami masa sulit setelah pecahnya Peristiwa Madiun pada 18 September 1948.

Pada periode itu, kesatuan tersebut menjadi sasaran kecurigaan akibat dugaan keterkaitan dengan kelompok pendukung Musso. Situasi tersebut berujung pada tindakan hukum militer terhadap sejumlah perwira dan bintara, termasuk Komandan Batalyon Mayor Poernawi dan Mayor Soemartono, yang dijatuhi snelrecht atau hukuman tembak mati.

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, Panglima Besar Jenderal Soedirman mengambil langkah untuk memanggil Komandan Resimen 24 Divisi IV, Letnan Kolonel S. Soediarto, yang saat itu berada di Pati. Penjemputan dilakukan melalui koordinasi Kepala Urusan Pekerjaan Istimewa Kementerian Pertahanan, Kolonel Wiyono, dengan menugaskan Letda Soeparto, kakak kandung Letkol S. Soediarto.

Setelah berhasil dibawa ke Yogyakarta, Letkol S. Soediarto menghadap Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto. Namun situasi kembali berubah ketika Agresi Militer Belanda II pecah pada 19 Desember 1948.

Dalam perkembangan berikutnya, Letkol S. Soediarto yang sempat ditahan di Wirogunan berhasil meloloskan diri dan menuju wilayah Purwodadi, Grobogan. Di Desa Jambon, ia mulai menghimpun kembali sisa-sisa pasukannya yang semula hanya berkekuatan satu kompi hingga berkembang menjadi satu batalyon.

Membangun Identitas Baru

Memasuki Januari 1949, tantangan yang dihadapi kesatuan tersebut tidak lagi sebatas persoalan militer, tetapi juga menyangkut identitas dan kepercayaan publik. Menurut dokumen sejarah tersebut, berbagai desas-desus yang mengaitkan pasukan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) membuat status mereka dipertanyakan.

Dalam sebuah rapat yang dihadiri sejumlah perwira, antara lain Mayor Joesmin Singo Menggolo, Kapten Rasmin Pringgojoewono, dan Lettu Soeparto, diputuskan pembentukan identitas baru bagi kesatuan tersebut. Karena mayoritas personelnya berasal dari Semarang, mereka memilih nama Stoottroep Semarang yang disingkat menjadi Brigade SS.

Forum yang sama juga membahas perancangan lambang kesatuan. Setelah membandingkan berbagai simbol nasional dari sejumlah negara, para perwira sepakat memilih kepala banteng sebagai lambang perjuangan.

Bentuk kepala banteng ditempatkan dalam bingkai berbentuk lingkaran yang dimaknai sebagai tekad bulat bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir kolonialisme.

Perdebatan kemudian berlanjut pada pemilihan warna lambang. Akhirnya diputuskan menggunakan kepala banteng berwarna merah dengan latar belakang putih.

Dalam penjelasan dokumen tersebut, warna merah melambangkan keberanian, kejujuran, serta pengorbanan para prajurit di medan perang, sedangkan warna putih menggambarkan dukungan masyarakat yang tulus terhadap perjuangan kemerdekaan.

Penetapan lambang “Banteng Merah” disebut tidak hanya sebagai identitas visual, tetapi juga menjadi simbol penegasan sikap politik kesatuan. Para perwira yang hadir disebut mengikrarkan bahwa mereka bukan bagian dari kelompok komunis, melainkan prajurit yang menyatakan diri berhaluan nasionalis dan setia kepada Republik Indonesia.

Restrukturisasi Kesatuan

Seiring lahirnya identitas baru tersebut, Brigade SS/VI SPDT melakukan restrukturisasi organisasi dengan membentuk sejumlah batalyon, yaitu:

  • Batalyon “Condrobirowo” dipimpin Mayor Soedarmono.
  • Batalyon “Tengkorak Putih” dipimpin Mayor Joesmin S.
  • Batalyon “Pancasila” dipimpin Mayor Maladi Joesoef.
  • Batalyon “Sunan Muria” dipimpin Mayor H. Basoeno.
  • Batalyon Sutarno dan Kusmanto.
  • Batalyon di bawah komando Mayor Moenawar yang saat itu belum memiliki nama resmi.

Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa pembentukan Brigade SS beserta lambang “Banteng Merah” merupakan bagian dari proses konsolidasi organisasi sekaligus upaya membangun kembali kepercayaan terhadap kesatuan di tengah situasi revolusi yang kompleks.

Dokumen Riwayat Singkat Brigade SS menjadi salah satu sumber sejarah yang merekam bagaimana sebuah kesatuan militer berusaha menegaskan kembali identitas dan loyalitasnya kepada Republik Indonesia setelah menghadapi stigma politik pada masa Revolusi Kemerdekaan.

Sumber: Riwayat Singkat Brigade SS, Staf Penerangan/Publiciteit Brigade SS Divisi III. Koleksi Jani Sari Library.

+ There are no comments

Add yours