PORTAL INFOKOM – Manusia sebagai makhluk sosial (homo socialis) adalah makhluk yang berhubungan secara timbal-balik dengan manusia lainnya. Dengan kata lain, manusia tergantung satu sama lainnya untuk menjaga keutuhan masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari makna kata manusia yang berasal dari bahasa Arab yaitu insan. Asal mulanya Insan itu adalah kalimat isim/kata benda dan bentuk kata kerjanya/fi’il adalah anas. Sementara kata sifatnya adalah anis (maskulin) dan anisa (feminim). Dari bentuk kalimat insan, anas, anis, dan anisa ini pada hakikatnya memiliki makna yang sama yakni harmonis. Keharmonisan ini terbentuk dengan akrab, saling kangen, saling merindukan, dan saling mendukung.
“Jadi yang namanya insan itu adalah makhluk yang tidak mungkin hidup sendirian. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk masyarakat atau sosial”, demikian kata Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj saat memberi mauidzah hasanah pada Peringatan 1 Abad NU dan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid Jami At-Thohiri Kampung Baru, Kebon Jeruk Jakarta Barat, Senin (13/2). Acara yang diselenggarakan oleh MWC-NU Kebon Jeruk dihadiri juga oleh Habib Mujtaba Sahab, Gus Ishlah Bahrawi dan DR. Irfan Zidny Wahab Al-Hasib.

Lanjut Kiai Said, “Keterkaitan manusia yang diamanahi Allah sebagai pengelola kehidupan dibumi (Khalifah) memiliki peran penting. Walau tugas ini berat, namun manusia berjanji siap untuk melaksanakannya. Hal ini disebutkan dalam QS Al-Ahzab Ayat 72 yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
Baca juga : Resepsi Puncak 1 Abad Nahdlatul Ulama Akan Dihadiri Presiden Jokowi

Dalam penjelasannya, Kyai Said mengungkap amanah Allah yang diberikan berupa Amanah Ilahiyah Samawiyah Muqaddas dan Insaniyah Ijtihadiyah ghairu Muqoddas.
Pertama, Amanah Ilahiyah Samawiyah Muqoddasah merupakan amanah yang bersifat sakral yakni agama (aqidah dan syariah).

Kemudian beliau juga menjelaskan bahwa akidah yang dijadikan pedoman yakni yang bersumber dari imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Syafi’i kedua sumber tersebut dianggap mampu dan berhasil mewujudkan cara berpikir washatiyah (jalan tengah), moderat tidak tekstual dan tidak (terlalu) rasional.
Kedua, Insaniyah Itihadiyah ghairu Muqoddas atau amanah yang bersifat keummatan/sosial, yakni tsaqofah dan hadloroh.
Tsaqofah berkaitan dengan kemajuan-kemajuan dalam bidang keilmuan (scientific), adat istiadat (culture) kegamaan (religion), dan kemanusiaan (humanity). Sedangkan hadloroh merupakan amanah yang berkaitan dengan materi (pemenuhan kecukupan hidup seperti sandang, pangan, kesehatan dan papan)
“Bagi umat Islam khususnya orang NU, harus cerdas dan maju kedepan. Ini adalah amanah agar kita membangun kehidupan,” sambungnya.
Sebagai orang NU, beliau mengajak para nahdliyin agar terus bergerak, tidak boleh diam, dan terlebih dalam kontekstualisasi pengkajian kitab kuning dan tidak boleh minder untuk terus berkarya dan optimis dalam membangun kehidupan ini.
Reporter : Ardi
Editor : Hans
Dokumentasi : Kubil
Publisher : Bayu
