Pembaiatan Anggota Pagar Nusa Sukoharjo: Refleksi Kekerasan dan Harapan untuk Pencak Silat

PORTAL INFOKOM – Pada Sabtu malam, 7 September 2024, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Sukoharjo diiringi dengan pembaiatan 375 anggota baru Pagar Nusa. Prosesi ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah ikrar suci yang mengikat jiwa dan raga para anggota baru untuk menjaga kehormatan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa. Pembaiatan ini membawa harapan besar sekaligus tanggung jawab yang mendalam bagi setiap anggota.

Di tengah kesakralan acara tersebut, situasi berubah saat laporan adanya pengerahan aparat keamanan yang besar terungkap. Padahal, sepanjang acara berjalan dengan tertib dan penuh kedisiplinan, menunjukkan komitmen tinggi dari para anggota Pagar Nusa. Ketidaksesuaian ini memicu reaksi dari banyak pihak, termasuk pernyataan tegas yang disampaikan oleh salah satu tokoh yang hadir, “Menyenggol anggota saya, berarti menyenggol saya.”

Pengerahan Aparat Keamanan dan Aksi Represif

Usai acara, tersebar video-video yang menunjukkan tindakan represif aparat keamanan terhadap anggota Pagar Nusa. Ini menimbulkan kekecewaan besar di kalangan organisasi pencak silat tersebut. Tindakan aparat yang dianggap tidak proporsional ini menimbulkan pertanyaan, mengapa aksi seperti ini dilakukan pada situasi yang seharusnya damai dan terkendali.

Selama ini, hubungan baik antara Pagar Nusa dan aparat keamanan seperti Polri sudah terbina dengan kuat. Hubungan harmonis antara Ketua Umum Pagar Nusa dengan Kapolri, hingga sinergi di tingkat daerah dengan Kapolda, menjadi bukti adanya ikatan positif. Namun, mengapa arogansi ini bisa terjadi? Apakah hanya Pagar Nusa yang mengalami perlakuan ini, atau juga organisasi pencak silat lainnya?

Masa Depan Pencak Silat dan Tantangan yang Dihadapi

Pertanyaan ini menggema di benak banyak pihak. Jika ada kesalahan dari pihak Pagar Nusa, bukankah pendekatan pembinaan lebih tepat ketimbang tindakan represif? Kekhawatiran pun muncul, jika tren kekerasan ini terus berlanjut, orang tua akan takut mengizinkan anak-anak mereka untuk belajar pencak silat. Ini bisa berakibat pada semakin memudarnya seni bela diri tradisional tersebut.

Ironisnya, kekerasan semacam ini jarang menimpa seni bela diri impor, sedangkan pencak silat, yang merupakan warisan asli Nusantara, justru sering menjadi korban. Pernyataan “Pencak Silat seperti orang asing di rumahnya sendiri” kerap terdengar, mencerminkan keprihatinan terhadap nasib bela diri ini yang seakan-akan terpinggirkan di tanah kelahirannya.

Pagar Nusa dan Komitmen untuk Menjaga Warisan Leluhur

Pagar Nusa, sebagai salah satu pilar penting dalam melestarikan pencak silat, tidak akan berdiam diri. Sesuai arahan dari para kiai, organisasi ini akan terus berjuang menjaga kehormatan dan martabat pencak silat. Dengan tekad yang kuat, Pagar Nusa berkomitmen untuk memperjuangkan keadilan dan melindungi warisan bangsa dari kepunahan.

“Ini adalah perjuangan kita bersama. Kita harus bangkit, berdiri tegak, dan bersatu untuk menjaga kehormatan pencak silat,” tegas salah satu pimpinan Pagar Nusa. Melalui kebersamaan, mereka yakin bahwa warisan luhur ini akan tetap hidup dan dihormati, meskipun menghadapi tantangan yang tidak mudah.

Pagar Nusa akan terus melangkah maju, berjuang untuk keadilan, dan memastikan bahwa pencak silat tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya bangsa Indonesia.

+ There are no comments

Add yours