PORTAL INFOKOM — Rangkaian tur Eropa bertajuk Cataclysmic Summer Tour 2026 yang diikuti tiga band metal Indonesia, DeadSquad, Jasad, dan Death Vomit, menghadapi sejumlah kendala. Sebanyak 16 personel dan kru dilaporkan sempat terlantar di Dublin, Irlandia, setelah promotor Diablo Productions diduga tidak menjalankan sejumlah kesepakatan yang telah dibuat.
Tur yang berlangsung sejak Agustus hingga awal September 2026 itu dijadwalkan dimulai dari Dublin pada 15 Agustus. Konser pembuka digelar di Lost Lane dan berjalan sesuai rencana.
Namun, persoalan muncul setelah pertunjukan perdana. Rombongan disebut tidak mendapatkan dukungan akomodasi dan transportasi yang diperlukan untuk meneruskan perjalanan menuju kota berikutnya dalam rangkaian tur.
Kondisi tersebut berdampak pada jadwal pertunjukan selanjutnya. Konser di Cork yang sedianya berlangsung pada 16 Agustus dan penampilan di London sehari kemudian, 17 Agustus, akhirnya harus dibatalkan.
Kendala serupa juga muncul terkait agenda di The Underworld Camden, London. Pihak pengelola venue menyatakan tidak pernah menerima pemesanan resmi dari Diablo Productions untuk pertunjukan yang dijadwalkan berlangsung di tempat tersebut.
Situasi semakin sulit karena pihak promotor disebut tidak mudah dihubungi. Akun Facebook Diablo Productions dilaporkan telah dihapus, sedangkan akun Instagram mereka diketahui menonaktifkan fitur tag dan pesan.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada 17 Agustus 2026, DeadSquad menyebut terdapat sejumlah komitmen promotor yang diduga tidak terpenuhi selama penyelenggaraan tur. Persoalan tersebut mencakup kesiapan venue, penyediaan transportasi dan akomodasi, hingga komunikasi dengan rombongan.
DeadSquad, Jasad, dan Death Vomit mengatakan telah berusaha menyelesaikan persoalan tersebut secara internal. Ketiga band juga mengaku tetap bersikap kooperatif selama proses penyelesaian masalah, tetapi berbagai upaya yang dilakukan tidak menghasilkan solusi.
Mereka akhirnya memutuskan menyampaikan persoalan tersebut kepada publik. Langkah itu disebut sebagai bentuk transparansi kepada penggemar sekaligus menjadi peringatan bagi pelaku industri musik ekstrem agar lebih berhati-hati dalam menjalankan kerja sama tur internasional.
Peristiwa tersebut menjadi catatan tersendiri bagi perjalanan tiga band metal Indonesia di panggung Eropa, sekaligus menunjukkan pentingnya kepastian terkait promotor, logistik, venue, serta komunikasi sebelum rangkaian tur internasional dilaksanakan.


+ There are no comments
Add yours