PORTAL INFOKOM – Di tengah hiruk-pikuk Batavia pada era kolonial, pernah hidup seorang jagoan yang namanya begitu ditakuti: Amat “Kocolan.” Julukan Kocolan (ikan gabus) disematkan kepadanya karena sifatnya yang licin dan sulit ditangkap aparat, sama seperti ikan gabus yang susah digenggam.
Koran De Locomotief (4 Juni 1936) dan De Sumatra Post (6 Juni 1936) bahkan menyebut Amat Kocolan sebagai “raja gangster.” Ia dikenal lincah, bergerak cepat, dan tak pernah bisa diringkus aparat kolonial meski sepak terjangnya sudah meresahkan.
Tarif “Nyawa” 15 Gulden
Dalam wawancara dengan wartawan pada 1936, Amat Kocolan sempat ditanya mengenai kabar bahwa ia bisa disewa untuk menghabisi seseorang. Dengan santai, ia menjawab:
“Wah, betoel! Dengan lima belas gulden, telinga orang itu akan diantar ke rumahnya!”
Menurut Amat, tarif itu berlaku sebelum 1936. Namun di tahun itu, ia bahkan menyebut ongkos “menyingkirkan seseorang” kian murah: hanya 10 gulden.
Jimat “Isian” di Pipi Kanan
Selain kelicinan gerakannya, Amat juga diyakini memiliki kekuatan gaib. Ketika wartawan bertanya mengapa dirinya tak pernah celaka atau terluka parah, ia menjawab:
“Oh, ada isian yang bagus di pipi kananku.”
Yang dimaksud adalah semacam susuk atau jimat khusus. Bedanya, kata Amat, isian itu jauh lebih ampuh dibanding jimat biasa, karena memberikan daya tahan tubuh yang tinggi dan kekebalan dari rasa sakit.
Preman Modern: Bersenjata Revolver
Tidak seperti jagoan jalanan yang hanya mengandalkan parang atau celurit, Amat Kocolan sudah menggunakan senjata api. Di kalangan Betawi, pistol kerap disebut “beceng.” Jenis yang ia gunakan adalah revolver dengan peluru berputar seperti senjata koboi, bukan pistol otomatis.
Ketika ditanya bagaimana ia mendapatkan senjata, Amat menjawab lugas:
“Oh, selama Priok ada, selama itu juga akan beredar pistol dan revolver gelap! Ada banyak makelar di sana. Pelaut dan orang Tionghoa berdagang revolver dan pistol otomatis, tetapi revolver adalah yang terbaik.”
Harga sepucuk revolver saat itu bisa mencapai 60 gulden dengan beberapa butir peluru. Namun, kata Amat, kadang dengan 25 gulden saja seseorang bisa mendapatkan pistol bagus dari pasar gelap di sekitar Tanjung Priok.
Sosok Licin, Legenda Gelap
Sepanjang kiprahnya, Amat “Kocolan” dikenal sebagai sosok yang tak tersentuh hukum. Setiap kali aparat berusaha menangkapnya, ia selalu berhasil lolos. Kisah tentang dirinya menjadi bagian dari catatan sejarah gelap dunia preman di Batavia, sekaligus potret kerasnya kehidupan kota pada masa kolonial.
Amat Kocolan pun dikenang sebagai preman legendaris Betawi yang hidup di antara mitos kesaktian, dunia kriminal, dan kerasnya persaingan di Batavia tempo dulu.


Izin share admin