PORTAL INFOKOM — Lembaran uang Rp50.000 yang dahulu menjadi andalan generasi perantau dan anak kos kini tak lagi memiliki daya beli yang sama. Jika pada 2013 uang pecahan biru itu mampu membeli hingga 25 bungkus mi instan, pada 2025 jumlah tersebut menyusut hampir separuhnya. Fenomena ini menjadi potret nyata dampak inflasi yang terus menggerus nilai uang masyarakat.
Andi Pratama (37), karyawan swasta yang merantau ke Jakarta sejak 2012, mengenang Rp50.000 sebagai “penyelamat hidup” di masa awal bekerja. “Dulu cukup untuk makan, rokok, pulsa, bahkan masih ada sisa. Hidup terasa lebih tenang,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut kini tinggal kenangan. Dengan nominal yang sama, masyarakat hanya mampu membawa pulang sekitar 14 bungkus mi instan. Selisih daya beli itu bukan disebabkan perubahan pola konsumsi semata, melainkan akibat kenaikan harga barang dan jasa yang berlangsung terus-menerus.
Ekonom Universitas Indonesia, Dr. Rina Dewi, menjelaskan inflasi yang melaju lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan riil membuat uang masyarakat seolah “menyusut”. “Yang hilang bukan hanya barang yang bisa dibeli, tetapi juga rasa aman dan kemampuan merencanakan hidup. Banyak orang bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan daya beli, bukan untuk meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya.
Dampak inflasi tak hanya dirasakan pada harga mi instan, tetapi juga kebutuhan pokok lain seperti telur, minyak goreng, tarif listrik, transportasi, hingga sewa tempat tinggal. Dengan uang yang sama, masyarakat kini memperoleh barang yang semakin sedikit.
Kondisi ini menjadi tantangan nyata bagi pekerja, ibu rumah tangga, dan anak kos yang harus cermat mengatur pengeluaran di tengah harga yang terus naik. Bertahan di tengah tekanan ekonomi saat ini, bagi banyak orang, sudah merupakan sebuah pencapaian tersendiri.


+ There are no comments
Add yours