Upaya Pendaftaran Pesantren Lateng sebagai Cagar Budaya: Menjaga Keaslian dan Sejarah Markas GP Ansor

PORTAL INFOKOM – Pesantren Lateng, tempat berdirinya Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia, akan didaftarkan sebagai cagar budaya. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jawa Timur sedang melakukan survei terhadap kompleks tersebut.

Endang Prasanti, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jawa Timur, mengungkapkan bahwa bangunan Pesantren Lateng sangat luar biasa dan masih dalam kondisi asli. Ia juga menekankan bahwa tempat tersebut memiliki nilai sejarah yang penting.

Meskipun demikian, Endang menyebut bahwa perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk menentukan apakah penetapan cagar budaya tersebut akan berlaku untuk bangunan atau seluruh kawasan.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan dukungannya terhadap upaya pendaftaran Pesantren Lateng sebagai cagar budaya. Ia siap berkolaborasi untuk melindungi situs-situs bersejarah yang memiliki nilai cagar budaya.

Inisiatif pendaftaran kompleks pesantren yang terletak di Jalan Riau, Kelurahan Lateng, Banyuwangi ini diajukan oleh Takmir Masjid Kiai Saleh, Dewan Kesenian Blambangan, dan Komunitas Pegon. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi juga terlibat dalam proses tersebut.

Pengajuan tersebut didasarkan pada dua hal. Pertama, fisik bangunan yang masih mempertahankan orisinalitasnya. Kedua, nilai historis pesantren yang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa.

Ayung Notonegoro, pendiri Komunitas Pegon, menjelaskan bahwa bangunan Pesantren Lateng yang selesai dibangun pada tahun 1918 masih memiliki arsitektur art deco khas masa kolonial. Ubin dan tembok bangunan tersebut secara kuat mencerminkan keaslian tersebut.

Selain itu, pesantren ini memiliki nilai historis yang signifikan. Pada 24 April 1934, pesantren tersebut menjadi tempat diselenggarakannya sidang Majelis Syuriyah Muktamar ke-IX Nahdlatul Ulama. Sidang ini menghasilkan beberapa keputusan penting, termasuk penerimaan Anshoru Nahdlatoel Oelama (ANO) sebagai bagian resmi dari NU.

Ayung menjelaskan bahwa ANO saat ini dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor, badan otonom NU dengan keanggotaan terbesar dalam organisasi kepemudaan di dunia.

Selain bangunan bersejarah, Pesantren Lateng juga menyimpan sejumlah manuskrip kuno, termasuk Babad Tawangalun dengan aksara pegon dan naskah-naskah dari Kesultanan Palembang, yang berpotensi menjadi cagar budaya.

Dengan pendaftaran sebagai cagar budaya, Pesantren Lateng berharap dapat menjaga keaslian bangunan serta melindungi nilai sejarah dan budayanya untuk generasi yang akan datang.

+ There are no comments

Add yours