Kisah Gempar Soekarnoputra, Anak Bung Karno yang Pernah Jadi Kondektur Bemo dan Penjual Es

PORTAL INFOKOM — Nama Gempar Soekarnoputra mungkin tak sepopuler putra-putri Presiden pertama RI lainnya. Namun perjalanan hidupnya menyimpan kisah dramatis tentang identitas, sejarah, dan perjuangan hidup yang berliku. Ia diyakini sebagai anak biologis Ir. Soekarno dari pernikahannya dengan Jetje Langelo di Manado—sebuah fakta yang baru terungkap puluhan tahun kemudian.

Kebenaran itu terkuak pada penghujung 1999, di tengah gejolak reformasi pasca-kejatuhan Presiden Soeharto. Jetje Langelo akhirnya membuka rahasia besar kepada putranya, Charles Christofel, yang saat itu dikenal sebagai pengusaha dan konsultan hukum di Jakarta. Sang ibu menunjukkan sejumlah dokumen, foto, hingga amanat tulisan tangan Soekarno yang selama lebih dari 40 tahun disimpannya rapat-rapat demi keselamatan anaknya.

Dalam amanat tersebut, Soekarno meminta agar anak yang lahir pada 13 Januari 1958 itu kelak diberi nama Muhammad Fatahillah Gempar Soekarno Putra. Alasan kerahasiaan itu tak lepas dari situasi politik pasca-1965, ketika Orde Baru melakukan operasi penumpasan terhadap sisa-sisa kekuatan Orde Lama.

Meski menyandang “darah biru”, kehidupan Gempar jauh dari kemewahan. Masa kecilnya di Manado diwarnai perlakuan keras dari keluarga tempat ia dititipkan. Sejak usia sekolah dasar, ia sudah harus bekerja menjual es demi memenuhi kebutuhan hidup. Saat remaja, ia pernah menjadi kondektur bemo, namun tetap berprestasi di sekolah hingga lulus SMA Negeri 1 Manado pada 1977 sebagai salah satu dari lima besar.

Merantau ke Jakarta tak serta-merta mengubah nasibnya. Gempar sempat hidup berpindah-pindah dan mengalami perlakuan kasar dari kerabat. Titik balik hidupnya datang ketika bekerja sebagai tukang ketik di kantor notaris di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Dari sana, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan meniti karier di bidang hukum.

Perlahan, kehidupannya membaik. Gempar menjadi konsultan hukum di sejumlah perusahaan besar dan bank, hingga akhirnya mencapai kehidupan yang mapan. Ia juga memeluk agama Islam dan berziarah ke makam Soekarno di Blitar sebagai bagian dari upaya mengenal ayah biologisnya.

Kini, Gempar Soekarnoputra dikenal sebagai profesional hukum yang telah berkeluarga. Kisah hidupnya menjadi potret kontras antara warisan sejarah besar dan realitas pahit perjuangan hidup—sebuah narasi tentang anak Sang Proklamator yang tumbuh lewat kerja keras, bukan privilese.

+ There are no comments

Add yours