Mat Item: Antara Jawara dan Bandit, Jejak Legenda Gondrong yang Membelah Ingatan

PORTAL INFOKOM — Nama Mat Item, atau Mat Item bin Siming, masih bergaung dalam ingatan warga Betawi di pinggiran Jakarta. Beroperasi pada dekade 1940-an hingga awal 1950-an, terutama di Gondrong, Cipondoh, sosoknya hadir sebagai figur yang memantik perdebatan: bagi sebagian warga, ia adalah jawara yang disegani; bagi yang lain, ia bandit yang menebar teror.

Di tengah ketegangan sosial-ekonomi masa itu, kisah Mat Item tumbuh menjadi legenda. Ia kerap digambarkan sebagai perampok yang membidik orang-orang kaya atau kalangan Belanda, lalu sebagian hasil rampasan dibagikan kepada warga miskin. Narasi ini menempatkannya dalam satu barisan dengan figur-figur jawara Betawi seperti Si Jampang—tokoh yang dihormati karena keberpihakan kepada kelompok lemah. Namun, potret romantik itu tidak berdiri sendiri. Dalam sejumlah catatan dan ingatan warga, Gondrong dan sekitarnya sekaligus menjadi panggung rasa waswas: aksi-aksi perampokan dan teror yang dikaitkan dengan namanya meninggalkan jejak ketakutan.

Kontras inilah yang membuat Mat Item sulit dilepaskan dari perbincangan sejarah lokal. Ia bukan sekadar nama yang hadir di cerita warung atau penggalan anekdot keluarga, melainkan simbol tentang bagaimana masyarakat memaknai keadilan dan kekuasaan di level akar rumput. Di satu sisi, ia dipandang menantang dominasi dan ketimpangan; di sisi lain, ia merepresentasikan hukum rimba yang menempatkan warga sebagai pihak paling rentan.

Akhir perjalanan Mat Item datang secara tragis. Pada 1952, aparat kepolisian melakukan penggerebekan di sebuah rumah di Gondrong. Operasi itu menutup kisahnya untuk selamanya. Kematian Mat Item sekaligus menandai berakhirnya satu era banditisme yang paling sering diperbincangkan di pinggiran Jakarta.

Seiring waktu, cerita tentang Mat Item terus beredar sebagai bagian dari sejarah lisan masyarakat Betawi. Ia hidup di antara dua garis besar narasi: pahlawan rakyat atau penjahat berbahaya. Di sanalah relevansinya bertahan—sebagai cermin bahwa sejarah tak selalu hitam-putih, dan bahwa memori kolektif kerap dibentuk oleh pengalaman yang tak seragam.

+ There are no comments

Add yours